
Abii......, Dada saya bergetar. Untaian nada itu memberi saya
perasaan ‘lain’. Perasaan bahwa saya telah menjadi ayah. Satu jabatan
yang bukan saja memberi ruang untuk merasa ‘berkuasa’, tapi juga
kesadaran akan sebuah ‘mas’uliyah’, sebuah tanggung jawab. Perasaan yang
menjelmakan saya sebagai manusia baru, memaknai ke-qawwam-an saya.
Karena saya laki-laki. Ayah dan suami.
Setiap kali melihat mata bening itu memandangi kepergian saya
berangkat bekerja, setelah mencium tangan dan mengucap salam, beribu perasaan
berkecamuk di dalam dada. Bangga, suka cita, haru, damai, atau perasaan lain
yang bahkan saya sendiri tidak bisa memberikan nama. Saya merasa ‘ditunggu’,
karena mata bundar itu berpendar mengisyaratkan penantian. Meringankan
langkah-langkah kaki, karena gairah kehidupan menjalari seluruh organ tubuh.
Memberi kekuatan dahsyat untuk ‘bertarung’ dalam belantara dunia yang
tak ramah, bahkan acapkali buas dan ganas. Kini, saya mengerti kenapa saya
harus pergi, dan kenapa pula harus kembali.
Ketika pulang ke rumah, bola matanya yang berbinar-binar menyambut
kedatangan saya seraya meneriakkan kata ‘Abii...’, sungguh membuat saya merasa
dibutuhkan, merasa berarti. Keceriaan mereka menerima buah tangan kalau
kebetulan ada rezeki, Alhamdulillah, atau sekedar tatapan lega karena saya
kembali dengan ‘utuh’, sungguh
membuat saya merasa diharapkan.
Menjadi seorang
ayah adalah obsesi saya tentang raja kecil. Istana serasa surga yang memberikan
pelayan-pelayan dengan kesetiaan suci murni, dalam teritorial paling sempit
sekalipun. Dan mimpi itu menemukan bentuknya, ketika kata-kata yang saya
ucapkan adalah keputusan. Bahkan, kemarahan saya pun tidak harus memiliki
alasan. Sebab saya adalah ayah, sebab saya adalah kepala rumah tangga dan saya
adalah si penguasa. Alangkah saktinya.
Namun, kata iman
yang saya pahami, memberikan beban yang sungguh tidak ringan. Apa dan bagaimana
kerajaan kecil saya itu terbentuk, di sanalah tanggung jawab dipertaruhkan,
baik dan buruknya. Bukankah setiap kita adalah seorang pemimpin ? dan setiap
pepimpin harus bertanggung jawab. Dia akan memanen sebatas apa yang ia tanam.
Memuaskan diri menjadi ‘raja’, bisa jadi akan menjadi malapetaka yang akan saya sesali di kemudian hari. Dan
ketika kesadaran seperti ini muncul, tak jarang saya menjadi takut atau bahkan
menangis. Saya takut gagal.
Abi.... sebuah
taman bungga mengharum di dada. Ada perasaan bangga menyelinap saat
mendengarnya. Betapa tulus kata itu terucap. Saya menemukannya sebagai mata air
pembasuh kegersangan jiwa, oase sejuk pada keangkuhan saya yang telah menjadi
gurun. Saya menemukannya sebagai spirit yang membekalkan semangat baja., dan membuat
hari-hari selalu baru. Saya menemukannya sebagai wilayah untuk berbagi serta
membuat saya rela mengalah. Itu memunculkan rasa nikmat mengagumkan yang saya
sendiri menyukainya.
Abi.... itulah
kata yang membuat saya menoleh atas panggilan seseorang yang bukan nama saya.
Memberi saya kesadaran bahwa saya ‘dimiliki’,
bahwa saya bukan lagi menjadi diri sendiri dan saya harus mengerti. A juga kata
yang membawa saya ke dalam babak baru metamorfosa saya sebagai manusia. Dunia
orang tua. Ya, ternyata saya sudah tua.
Waktu yang saya
miliki mungkin tidak lama lagi. Saya harus mulai mencermati pilihan-pilihan
aktivitas dan merenung lebih banyak. Agar andil saya dalam mencetak generasi
rabbani menjadi kenyataan. Agar rumah tangga ini tidak menjadi neraka. Agar
menjadi ayah adalah kesuksesan yang bisa dibanggakan. Dan anak-anak adalah
simpanan yang menyelamatkan. Agar saya merasa telah berbuat sesuatu.
Saya bangga
dipanggil Abi. Saya bangga menjadi ayah, meski itu harus berkorban banyak. Saya
bangga menjadi bagiannya, meski harus ‘kehilangan’ masa berhura-hura dan
memanjakan diri sendiri secara berlebihan. Saya akan mencari kenikmatan lain
yang memesonakan, menjelmakan keinginan untuk berperan dalam perubahan
peradaban dalam arti yang sebenarnya. Dan saya sadar, bahwa ini semua baru
dimulai.
Saya bangga
dipanggil abi. Saya bangga menjadi ayah, sebab Rasulullah SAW sang junjungan
adalah seorang ayah juga. Yang memberikan kabar gembira akan
berkesinambungannya pahala anak shalih bagi orang tua mereka di akherat. Dan
bahkan di dunia pun mereka adalah ‘qurrata
a’yun’, si penyejuk mata. Bukankah ini investasi yang menjajikan ?
0 komentar:
Posting Komentar