Kamis, 05 April 2012

BUAYA BUNTUNG


 cerita ini adalah cerita yang aku kirim buat Burhan Shadiq dalam sayembara SANTRI IS ALWAYS HAPPY. bisa ditunggu terbitnya buku Santri is Always Happy
Pagi yang indah, hari yang cerah, ku lihat titik-titik embun  yang menetes, berkilau indah dibalut terpaan mentari pagi. Angin semilir bertiup sepoi menghembus dedaunan dengan lembut, penuh dengan kasih dan sayang. Aku termenung di kebun belakang hujroh[1] menghayati harmoni alam yang sederhana. Hatiku, jiwaku dan akal budiku menyatu dengan indahnya pagi itu. Seperti biasanya, sembari antri menunggu giliran untuk bisa menikmati siraman air dingin di kamar mandi.
“ Huft, lama banget antriannya “ gumamku dalam hati. Merayap anganku mengingat kejadian dini hari tadi, lucu tapi juga konyol.
“ Hemm, lucu juga “ batinku berbicara.
ßJà
“ Allahuakbar Allahuakbar “
Gema adzan memecah wahana kesunyian petang, menghentak jiwa-jiwa yang terlalu lalu lalang mengurusi keduniawian. Indah mengalur merdu menenangkan hati yang tidak karuan
Suara-suara gemuruh lantunan ayat-ayat AL Qur’an dibacakan oleh ratusan santri. Seperti biasanya, para santri mengisi waktu sembari menunggu Iqomah yaitu dengan membaca Al Qur’an, ada yang menghafal ayat-ayat Al Qur’an maupun hanya sekedar memurajaah[2] hafalan. Dan tentunya mereka larut dengan lantunan bacaan yang bisa mengisi hati yang kosong, oh betapa indahnya. Andaikata orang-orang yang sedang dilanda nestapa, orang-orang yang sedang dirundung masalah maupun orang-orang yang dilanda kekeringan dalam hatinya menyaksikan pertunjukan ini niscaya akan damai hatinya dan lapang jiwanya.
Selepas sholat Maghrib, kini saatnya menyantap hidangan malam. Barisan panjang dan rapi selalu menjadi pemandangan tersendiri. Aneh memang, tetapi inilah kebiasaan yang bisa mengajarkan kesabaran. Bagaimana tidak, kita harus rela berdiri berjajar untuk menunggu giliran.
“ Yah, ngalirnya kecil “ celotehku sambil mencuci piring bekas makan malam tadi. Akhir-akhir ini memang sering kehabisan air, mungkin karena pompanya yang rusak
“ Akh, kita nampung air yuk ! biar besok nggak usah pusing kalau bangun tidur “ ajak temanku
“ Boleh juga tuh ide, ember ente mana ? “
“ Itu yang di pojok “ sambil menunjuk ember hitam di sudut teras belakang
ßJà
“ Allahuakbar Allahuakbar “
Suara sang Muadzin mengumandangkan adzan Isya’ yang khas dengan irama Muhammad Thoha Al Junayd, menambah syahdu suasana malam.
Rutinitas anak pondok ba’da isya’ adalah belajar malam. Mungkin disinilah perbedaan gaya belajar anak pondok dengan pelajar luar. Walaupun tidak ditunggu oleh para Ustadz maupun musyrif kamar, bukanlah alasan untuk malas belajar.
“ teeeeeeeeeeeet, teeeeeeeeeeeeeeeet “ bunyi bel berdering mengagetkan keheningan ruang belajar
“ Woi, Jaros tahdzir “
Yah, tahdzir malam ataupun apel malam yang menjadi rutinitas malam anak pondok. Waktu inilah diadakannya pengecekan terhadap semua santri, pengecekan atas pelanggaran-pelanggaran selama sehari. Waktu ini juga yang menjadi pembatas minimal para santri diperbolehkan istirahat
“tanpa penghormatan bubar jalan” sang komandan apel malam membubarkan barisannya
“Allahu akbar”
ßJà

“Qum-qum “ tepat jam 3 dini hari
“ akh, akh ayo bangun, entar kita kehabisan air kalo terlambat” ingat temenku
Alhamdullilahilladzi ahyana ba’dama amatana wailaihinnsur
Sambil terhuyung-huyung menahan kantuk, ku langkahkan kaki menuju belakang hujroh, tempat kita menyimpan cadangan air
“ Alhamdulillah masih ada “ gumamku
“ Yah, ane nggak kebagian “ gerutu Sholeh
“ bagaimana ini ? “ Agus menimpali
“ Ke sungai aja yuk !” ajak Imam pada temen-temen
“ boleh juga tuh, bareng –bareng aja lah”
Sambil bermodalkan senter, sebagian santri yang tidak kebagian air berjalan menuju sungai. Maklum aja, di belakang pondok kami  terdapat sungai yang lumayan besar. Sungai inilah yang dijadikan batas area pondok dengan area luar pondok.
“ eh buruan ambil airnya “ Sholeh mengingatkan
“ Gus, ane mandi dulu ya. Tungguin !” bisik Imam kepada Agus sambil menjauh dari teman-temannya, Imam mulai mandi. Kebetulan anak satu ini mendapat kenikmatan dalam tidur, ihtilam[3].
“eh, kok kayak ada orang mandi” batin Sholeh curiga dengan suara gebyar-gebyur, tanpa pikir panjang senter ia alihkan ke sumber suara, dan ...................
“ Haaaaaaaaaaaaa, ada buaya buntuuuuuuuuung “ teriak Sholeh
“ woi, jangan senter ke sini “ teriak Imam tak mau kalah
“ hahahahhahahahhaha” Sholeh tertawa sejadi-jadinya
“ eh, Shholeh mana buaya buntungnya ? “ tanya temen-temen yang lain
“ ngaco “ gerutu Agus
”nggak, nggak” Sholeh menjawab pertanyaan sambil menahan tawanya
“ Ayo balik aja “ ajak Imam yang kebetulan sudah selesai mandi
“ ha ha, buaya buntung “ Ulang Sholeh sambil terus tertawa

ßJà
“ Woi “ bentak Imam. “ Melamun aja, udah kosong tuh hamam[4]nya “
“ He he, iya, ma kasih” ku lihat wajah Imam sambil tersenyum dan ku beranjak ke hamam




[1] Kamar
[2] Menggulang hafalan
[3] Mimpi basah
[4] Kamar mandi

4 komentar:

MUHAMMAD RIDWAN mengatakan...

cerita suasana pondok?
hm..., nice story...

mahbub ikhsan mengatakan...

Assalamu'alaikum....mas santri salam kenal...wah asyik juga tu serba serbi santri....bahagia itu indah.

Mahfudz Al Fawwaz mengatakan...

sip

hajar mengatakan...

Assalamualaikum........
Kocak ya ceritanya bikin ktw

Posting Komentar