Senin, 16 Januari 2012

SAHABAT part II

Di dunia ini aku tidak mempunyai siapa-siapa selain keluarga dan sahabat. Aku terlalu menuntut kejujuran dan keikhlasan dari sahabatku, tapi aku sendiri lupa tentang hal itu. Dan aku terlalu sering mengutamakan harapan dan keinginanku sendiri. Aku merasa dikhianati jika ia ingkar janjij, tapi aku sendiri pernah membuat dia menunggu. Anehnya aku beri ia seribu alasan dan memaksa dia untuk menerima alasanku. Waktu itu tidak terpikir olehku tentang perasaanya, di juga mengenal rasa kecewa tapi aku sering lupa.
Dia sering menjadi teman curhat terbaikku, dia perhatikan ungkapan perasaanku, rasa kecewaku, rasa takutku, harapanku dan impianku dengan seksama dan sesekali ia beri jalan keluar dari setiap permasalahanku. Aku terlalu enjoy bercerita tentang diriku hingga aku lupa bahwa dia juga inggin berbagi denganku, menceritakan permasalahannya denganku. S’eringnya aku terlupa bahwa dia juga ingin berbagi, bercerita tentang kebimbangannya dan rasa takutnya. Terkadang ia menyabarkan aku tapi aku belum pernah menenangkan dirinya. Belum pernah aku menjadi sumber kekuatan baginya padahal ia sering meniupkan semangat disaat aku lemah, bahkan ia sering aku jadikan tempat bersandar jika aku hampir roboh. Sekarang baru aku mengerti, dia juga punya kelemahan. Dan ia juga butuh kawan untuk menguatkan. Aku sering melihatnya tertawa, tetapi mungkin di hatinya banyak kesedihan yang ingin diluapkan. Di balik kesenangannya mungkin terdapat kekalutan, aku tidakk tau, karena aku sering tak mau tau.
Sahabat, dikala pikirku penuh sesak dengan segala urusanku. Di saat inginku mencari pendamping hidupku. Kau selalu menemanniku, menenangkan aku. Dan kini aku tau bahwa dirimu juga menaruh hati pada wanita yang kini menjadi pendamping hidupku. Kau memperlihatkan ketabahanmu, dan kau temani diriku sampai akhir masa lajangku. Waktu itu kau terlalu mengelak dengan isi hatimu.
Dan kini engkau telah menempuh jalanmu. Hanya seuntai kata-kata terangkai dalam file yang engkau taruh dalam komputer tanpa sepengetahuan diriku.
Sepenggal episode di bawah terik matahari
hembusan angin sawah membelai
membelai rasa keindahan
gemriciknya air tirta ikut membisikan
membisikan swara kegembiraan,
namun, kau hanya terdiam
terbingungkan,
cinta manakah yang harus kau gapai?
kau makin resah
mulai hanyut dalam lantunan air mata
lalu, kau menengadah ke langit nan luas
bercerita dengan ilahi
Sang Penguasa jagat raya
dan Dia mendengarnya
cahaya cinta pun turun
menyinari relung hati yang merasa
kini kaupun tersadar
akan hadirnya cinta yang sejati
cinta yang haqiqi, cinta ilahi
itulah CINTA
ia adalah cahaya dalam kegelapan
ia adalah kedamaian dalam gundahnya hati
ia adalah oase di tengah gersangnya gurun

teruntuk mu sobat,
kini kau tlah  jauh dariku
kau tak lagi menggubrisku
kau tak lagi mau mendengarkan jeritanku
Memang, aku tak seindah perhiasan dunia
Aku tak seberharga emas murni
Dan tak sekemilau permata
Aku... aku hanyalah segelas air
Segelas air yang tak sesegar hujan menetes
Segelas air yang tak sebening tirta mengalir
Aku segelas air yang selalu siap tuk melepas dahagamu
Aku tlah bahagia karna ku dapat membuatmu lega
Saat kau haus berlari mencari permata
Saat kau kepayahan mengejar perhiasan
Dan kaupun berhasil mendapatkanya
Walau kini ku slalu sendiri
Namun ku kan coba tuk terus bersama
Walau aku sedih ku kan slalu tersenyum untuk mu
Dan aku tak kan pernah menyesal
Aku kan slalu memahamimu
Sobat, maafkan diri ini yang hanya bisa menjadi segelas air
Yang tak bisa lebih dari itu
Dan tak sesempurna yang kau harapkan


Sahabat, terima kasih telah menjadi air dalam kehidupanku. Terima kasih telah mejadi penawar dahagaku.

Sahabat, hanya do’a yang bisa aku kirim mengiring perjalanan sucimu. Semoga engkau mendapat pendamping yang baik, sebaik dirimu

From your brother
I love U coz Allah

3 komentar:

Qefy mengatakan...

Indahnmya persahabatan....

windi mengatakan...

terharu..

Kang Zeer El-Watsi mengatakan...

sahabat adalah yg menemani kita di kala susah dan senang... :)

Posting Komentar